Rabu, 01 Februari 2012

Download eBook Karya Pemikir-Pemikir Islam Kontemporer

jika saya menganalisa ketajaman fikriyah kader harokah dakwah saat ini, terutama kader tarbiyah yang ada di kampus, maka saya akan mendapati sebuah hasil penilaian yang mungkin agak buruk. belakangan ini saya melihat, banyak sekali kader dakwah yang tidak memiliki minat untuk membaca berbagai literatur yang sebenarnya sangat penting untuk rujukan dakwah. mungkin ada 4 hal yang melatarbelakangi mundurnya minta baca ini. yang pertama dikarenakan tidak adanya meteri bacaan yang dikarenakan sulitnya mencari buku-buku gerakan Islam, terutama buku-buku karangan ulama lawas.

yang kedua, mundurnya minat baca dikalangan kader dikarenakan beberapa kader sudah menganggap materi tarbiyah yang tersaji dalam buku-buku "saku" (intisari-intisari materi) sudah mencukupi untuk bekal bersyiar. yang ketiga, makin sibuknya kader dakwah dengan agenda akademik. sehingga ketika harus memilih bahan bacaan, tentunya buku-buku yang berkaitan dengan disiplin ilmu lebih menjadi prioritas. dan yang keempat, tidak adanya minat pada kader dikarenakan kader tersebut memang tidak memiliki gairah membaca, dan jenis kader yg terakhir ini merupakan yang paling berbahaya bagi dakwah.

salah satu solusi yang paling baik dalam memecahkan permasalahan minat baca kader yakni dengan mendistribusikan bahan bacaan, baik itu berupa buku, ebook, dan jenis bahan bacaan lainnya. oleh karena itu, saya disini ingin memberikan sedikit beberapa bahan bacaan ke teman-teman semua yang ingin menambah wawasan mengenai pemikiran-pemikiran ulama kontemporer. berikut daftar bacaan yang bisa teman-teman download:

1. Sayyid Qutb: Masa Depan di Tangan Islam dan Petunjuk Sepanjang Jalan
DOWNLOAD DI SINI
2. Hasan al Banna: Dakwah Kita, Himpunan Risalah Hasan al Banna, Usrah dan Dakwah DOWNLOAD DI SINI
3. KH. Rahmat Abdullah: Untukmu Kader Dakwah
DOWNLOAD DI SINI
4. Dr. Yusuf Qhardawi: Fiqh Prioritas
DOWNLOAD DI SINI

Semoga link Download ini bermanfaat. ayo kita budayakan membaca!

Selengkapnya...

Sabtu, 28 Januari 2012

DOWNLOAD JURNAL "Gerakan IM Dan Dakwah di Indonesia"

Download jurnalnya di sini

Pengantar dari saya:

Waktu di antara penghujung tahun 2011 dan di awal tahun 2012, banyak sekali diisi dengan kejadian besar yang mewarnai sejarah umat manusia. salah satu kisah besar itu yakni revolusi Islam di dunia Arab. kenapa saya mengatakan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai "revolusi Islam"? bukankah revolusi di dunia arab terjadi secara alami dikarenakan rakyat bosan dengan kediktatoran pemimpin-pemimpin mereka?, bagi saya banyaknya revolusi yang terjadi di negeri-negeri arab salah satunya dikarenakan makin besarnya aktivitas harokah Islamiyah di sana. hal ini dibuktikan dengan kemenangan partai-partai Islam pasca revolusi di negara-negara yang mengalami gejolak politik "tsunami Arab". dan kalo ditelusuri lebih lanjut, kebanyakan partai-partai tersebut berinduk pada satu harokah, yakni Ikhwanul Muslimin (disingkat IM).

yang perlu kita semua ketahui, gerakan IM tidak muncul secara tiba-tiba. gerakan ini memiliki sejarah yang sangat panjang dalam gerakan dakwah terutama di dunia arab. gerakan yang di bidani oleh Imam Hassan al Banna ini muncul pertama kali kepermukaan sejak tahun 1928. sudah sangat tua untuk ukuran sebuah organisasi. semenjak Ormas dakwah ini muncul, banyak sekali tantangan dakwah yang dialami oleh ikhwah (sebutan kader IM) mesir. baik itu berupa pembredelan, pembekuan, bahkan pembunuhan terhadap para pimpinannya. luka sejarah yang didapati dalam pertempuran inilah yang menyebabkan IM menjadi harokah Islam paling tangguh di dunia Arab.

IM dalam sejarah pergerakannya ternyata tidak hanya mengurusi persoalan-persoalan bangsa mesir. IM juga banyak mengurusi jaringan dakwah di luar mesir. sehingga IM identik dengan gerakan dakwah Transnasional. bahkan, kalau seandainya kita membaca buku-buku sejarah Bangsa Indonesia, maka kita juga akan menemui ikatan antara IM dan revolusi bangsa Indonesia ditahun 1945. seperti apa hubungan antara Indonesia dan IM dimasa dahulu? baca jurnal di atas
Selengkapnya...

Jumat, 02 Desember 2011

TAHAJUD PERTAMA

saya masih sangat kecil sekali ketika pertama kali melakukan tahajud. Jika diingat-ingat sepertinya saya melakukan tahajud pertama saat masih duduk disekolah dasar. Antara kelas satu, dua atau tiga. saya agak lupa. Yang saya ingat, ketika itu kami sekeluarga masih tinggal di Jl. Melur IV Depok, dan saya rasa ketika itu Tengku M. Faisal juga belum lahir. Yah, kira-kira saat itu masih SD dan belum kelas tiga.

Sebenarnya saya mendapati istilah tahajud pertama kalinya ketika saya ngaji di TPA. Para Ustadzah yang mengenalkannya. lho kok para ustadzah? Yah, ditempat saya menimba ilmu kehidupan itu tidak ada ustadznya. seingat saya, ustadzahnya ada tiga. Saya lupa nama-nama beliau. Yang masih tersimpan di memory otak saya adalah alamat rumah-rumah mereka. Ada ustadzah yang tinggal di jalan Melur, ada ustadzah yang tinggal di jalan Jati, dan yang terakhir ustadzah yang tinggal di jalan Siak (deket stadion depok). Jadi mereka bertiga inilah yang bahu membahu mengupgread win kecil untuk menjadi anak yang soleh. Semoga Allah melindungi mereka dan segenap keluarga mereka.

Sebenarnya banyak pertanyaan yang muncul di benak saya pasca mendapatkan materi tentang sholat-sholat sunnah, terutama tahajud. “Buat apa sholat banyak-banyak? Lha sholat lima waktu aja susah bener istiqomahnya” pikirku saat itu. Pulang ngaji saya langsung menghadap ibu. Saat itu langsung saya tanya kan kepada beliau mengenai sholat tahajud. “Ma, buat apa kita sholat tahajud?”. Beilau jawab “hmm, kalau sholat tahajud, nanti Allah akan mengabulkan tiga permintaan kamu. Langsung dikabulkan”. Mendapat penjelasan demikian angan-angan win kecil mulai liar tak terkendali. Beberapa harapan muncul dalam otak. Tapi saya lupa apa yang saya minta saat itu. “nanti malam mau tahajud sama Mamah?” tanya ibu. “iya mau, tapi kapan sholat tahajudnya?” jawabku penuh semangat. “Nanti malam mamah bangunin”. “oke” saya girang. karena kalau saya tahajud, maka Allah akan mengabulkan tiga harapanku.

Malam berjalan sangat lambat. Tiap detak dari jarum detik jam dinding kamar benar-benar sangat memberatkan. Saya sangat khawatir tidak bisa bangun malam. Sampai akhirnya, aku bisa tertidur dikarenakan ibu memberikan jaminan kalau malam ini kita akan sholat tahajud. Beberapa jam saya tak sadarkan diri dalam tidur. Semua berubah menjadi bukan mimpi ketika saya secara sadar melihat jam dinding menunjukan pukul dua pagi. Dengan semangat saya langsung turun dari kasur dan mengambil air wudhlu. Tidak sabar rasanya meminta semua yang saya inginkan pada Allah SWT.

Pertama kali sholat tahajud, saya menjadi makmum dari ibu. Yah saat itu saya belum berani jadi Imam. Saya belum hafal beberapa bacaan sholat. Jadi saya pasrahkan jabatan imam kepada ibu. Saya bigung apa yang harus saya baca ketika sholat tahajud. Bagi saya saat itu, bacaan sholat tahajud pasti khusus. Karena sholat ini benar-benar sangat special. sehingga saya tidak baca apa-apa dalam sholat. Saya cuma ikutin gerakan ibu dari awal sampai akhir. Habis sholat saya makin tegang. Apalagi ketika ibu menyuruh saya berdo'a. Dan dengan semngat power ranger (tokoh yang populer saat itu selain presiden Soeharto) saya ucapkan semua keinginan saya. Dan sholat pun berakhir.

Saya lupa apa saja permintaan yang saya minta ketika itu. Semoga saja saya tidak minta dirubah jadi belalang tempurnya satria kotaro minami. Atau minta agar badan saya berubah jadi besi seperti jiban (tokoh lain yang berpengaruh saat itu selain power ranger, kotaro minami, dan menteri penerangan pak Harmoko). Apapun do'anya yang pasti Allah pasti merencanakan segala yang terbaik baik saya. Mungkin saja apa-apa yang saya dapatkan saat ini salah satunya adalah karena dampak do'a saya ketika itu.

Saya sangat berterimakasih pada ibu. Karena beliau menjawab pertanyaan yang saya ajukan dengan tindakan nyata. Bukan malah menambah beban pikiran si win kecil dengan berbagai penjelasan terkait sholat tahajud yag sangat sulit dicerna logika saya saat itu. Beliau rela bangun malam menemanai saya yang diliputi dengan banyak tandatanya. Dan memberikan harapan bagi saya untuk meminta segala permintaan pada Allah. Semoga calon pendamping hidupku juga melakukan hal yang sama seperti ibu. Menjadi pendidik yang teladan bagi anak-anaknya.

Keesokan harinya ibu bertanya. “nanti malam tahajud lagi ga?”. “enggak ah, nunggu cita-cita yang kemarin terkabul dulu aja” jawabku polos sambil memunguti kelereng yang berserakan dibawah kursi.
Selengkapnya...

Selasa, 12 Juli 2011

DOWNLOAD UNDANGAN RAKORWIL BEM-SI JATIM

Bagi teman-teman aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Strategis BEM Seluruh Indonesia (BEM-SI) wilayah Jawa Timur. Monggo bisa mendownload surat undangan dan proposal RAKORWIL BEM-SI JATIM di sini

RAKORWIL insyallah akan dilaksanakan di Malang. tepatnya di Universitas Brawijaya. semoga dalam moment kali ini, kita sebagai mahasiswa mampu memberikan trobosan baru untuk memperbaiki Indonesia dan JATIM khususnya...HIDUP MAHASISWA!!! HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!
Selengkapnya...

Senin, 11 Juli 2011

HARI BERJUANG (RUHUL JADID) VS HARI BERJUANG (GONDES)

sebelum baca, download dulu lagunya. downloadnya di sini

lama sekali tidak mendengarkan nasyid-nasyid aliran banyol. nasyid model gini biasanya nasyid modifikasi. lebih tepatnya modifikasi nasyid haroki jadi nasyid "lebay". nah pas lagi liat-liat folder usang yang ada di leptop. secara tidak sengaja saya menemukan satu folder yang isinya kumpulan nasyid. nama folder ini kurang menarik makanya jarang dibuka, namanya "New Folder" (hehehe).

ternyata folder yang kurang menarik untuk dilihat ini memiliki isi layaknya harta karun. karena di dalamnya terdapat nasyid aliran banyol. pas musiknya diputar, ga terasa saya ketawa cekikikan sendiri (kayak orang gila). asli, nasyidnya banyol banget. saya ga tahu kelompok nasyid apa yang melantunkan ni nasyid. tapi katanya si Ukasah (tetangga kamar), ni yang nyayikan kelompok Gondes. dan lagu ini sudah lama sekali. tapi biar oldiest, nasyid ni dah berhasil membuat senang saya di hari ini...ni kalo semua mau tahu lyric nasyidnya:

Nada Nasyid ini mengadopsi nadanya nasyid "Hari berjuang-Ruhul jadid"

Hari ini-hari ini ada pengajian
Jangan ragu jangan takut undang semua kawan
Walau modalnya panita serba pas-pasan
Luruskan niat hanya Allah satu tujuan
Walau naik bus kota nya berdesak-desakan

Hai mujahid lihat yang duduk di depan kita
Wajahnya damai dan senyumnya cerah ceria
Walau terkadang bolos dikelompok ngajinya
Tetapi murobbi selalu berlapang dada
Ridho membantu seluruh proses ta’arufnya

Hari ini-hari ini ada pengajian
Jangan lupa pasang senyum yang manis menawan
Kasihan saat lihat panitia kelelahan
Kasihan ada panitia yang pusing beneran
Ternyata pusingnya karena masih bujangan

Jadi panitia menyenangkaaaan…
Ada maksud yang disembunyikaaaan…
Silaturohmi yang diutamakan
Semoga ketemu yang diimpikaaaaan…
Kalaupun jodoh wallahu’alam…

Hari ini-hari ini ada pengajian
Maafkan kalau kami terlalu mengesalkan
Hati berdebar kepala jadi nyut-nyutan
Kami harus segera kembalikan pinjaman
Tapi yakin Allah akan mudahkan urusan

Hai mujahid kita jadi pusat perhatian
Walau panitia sibuk menghitung tagihan
Khawatir ada yang belum membayar iyuran
Kadang panitia pada kurang kerjaan
Tapi kita bantu saat mereka walimahan

Hari ini-hari ini ada pengajian
Mohon maaf kalau kami banyak kesalahan
Mohon diri kami harus segera pulang kandang
Ditempat tinggal kami masih banyak cucian
Maklumlah kami semua masih sendirian

Luruskan niat hanya Allah satu tujuan
Walau naik bis kotanya desak-desakan

Luruskan niat hanya Allah satu tujuan!
Selengkapnya...

Minggu, 10 Juli 2011

RACUN ISTILAH

Banyak cara yang dapat digunakan oleh mereka para orientalis untuk menjauhkan ummat dengan ajaran islam. Salah satu cara yang paling ampuh saat ini adalah dengan membuat terminologi-terminologi baru di masyarakat. Atau bahkan dengan cara menyandingkan istilah-istilah ilmiah dengan kata islam (mereduksi kata islam). Terminologi-terminologi tersebut disebarkan dan dipahamkan pada masyarakat dengan gaya yang sangat ilmiah, sehingga secara tidak sadar kita dan masyarakat kita melazimkan terminologi-terminologi tersebut.

Ketika membaca buku ”epistemologi kiri”, saya menemukan sebuah analisa yang cukup mencengangkan terhadap penggunaan terminologi-terminologi yang selama ini lazim kita gunakan. Sebut saja istilah seperti; islam fundamentalis, islam konservatif, islam moderen, dan segala kata islam lainnya yang cukup banyak. Sadar tidak sadar, sebenarnya penggunaan terminologi-terminologi ini akan berdampak negatif bagi perkembangan islam.

Hasan hanafi, seorang pemikir filsafat timur dalam buku epistimologi kiri berpikir bahwa masyarakat islam saat ini disudutkan dengan istilah-istilah negatif. Media massa bahkan filem-filem layar lebar saat ini seringkali mengulang istilah-istilah negatif seperti teroris dan fundamentalis dalam setiap tayangannya. Tidak masalah sebenarnya. Tapi kenapa ketika kita berbicara tentang teroris atau fundamentalis selalu ditujukan pada mereka yang bersorban dan berjanggut? Bukankah ini termasuk dalam hal yang menyudutkan islam?.

Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya ”fiqih prioritas” juga menyatakan bahwa penggunaan istilah-istilah baru (terminologi baru) adalah satu cara yang paling ampuh untuk memecah belah umat islam di zaman ini. ”Pada hari ini mereka menggunakan baju liberalisme Barat, yang mempertajam senjata pena mereka untuk memerangi Kebangkitan Islam, dan kebangkitan barunya; mengacaukan da'wahnya; menghalangi para dainya; dan menciptakan istilah-istilah baru untuk menjauhkan umat dari agamanya (Islam); seperti: Islam politik, atau fundamentalisme”.

Reduksi ideologi

Sebagai masyarakat muslim yang hidup di lingkungan ilimah, sebenarnya kita harus bisa lebih bijak dalam memilih kata-kata untuk mengistilahkan suatu hal. Harus ada analisa yang dalam sebelum kita melontarkan sebuah istilah. Karena dampak yang akan ditimulkan akan sangat besar jika istilah-istilah tersebut salah diartikan oleh orang awam.

Tidak ada masalah sebenarnya jika kita menggunakan istilah-istilah ilmiah untuk menggambarkan suatu hal. Tapi akan menjadi masalah jika kata-kata ilmiah disandingkan dengan kata islam. Karena ketika kata islam disandingkan dengan kata yang memiliki makna idiologis akan terjadi proses reduksi istilah.

Reduksi istilah adalah proses bergabungnya dua istilah menjadi sebuah pokok bahasan, dan impunan istilah yang mengenai salah satu pokok pemikiran itulah yang sering kita sebut dengan terminologi.

Ketika dua kata ideologis tereduksi maka akan terjadi pertarungan pengaruh dalam istilah yang saling mereduksi tersebut. Sehingga nantinya salah satu istilah pasti akan menjadi dominan dalam terminologi tersebut. Sebagai contoh penggunaan istilah ”islam Kiri”, tanpa kita harus melakukan pembedahan terlalu dalam terkait istilah ini pasti kita akan paham kalu terminologi ini erat kaitannya dengan paham komunisme. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa kata islam tereduksi oleh kata ”kiri”. Islam lah yang diwarnai oleh ajaran karl marx, bukan sebaliknya. Sehingga wajar jika para penganut paham ini lebih kental pemahaman dialektika marxis-nya ketimbang pemahaman akan islamnya.

Istilah paradoks

Jika tadi kita berbicara terkait bahayanya ketika ada kata yang saling mereduksi, maka kali ini pembahasan kita akan terfokus pada istilah-istilah yang disandingkan dengan islam tetapi sebenarnya istilah tersebut paradoks secara substansi dengan ajaran islam.

Istilah-istilah paradoks tersebut sebenarnya sangat berbahaya sekali bila digabungkan dengan kata islam. Karena yang akan terjadi adalah penyimpangan dalam memaknai islam itu sendiri. Sebagai contoh; kata islam fundamentalis, islam tradisional, dan lainnya. Ketika kita menjumpai terminologi-terminologi tersebut tentunya kita akan menjadi bingung. apakah ada istilah kaum fundamentalis dalam islam? dan adakah kaum islam tradisional?

Istilah Fundamentalisme sebenarnya adalah istilah yang lekat dengan kaum gereja yang taat di eropa pada abad pertengahan. Tapi lama kelamaan istilah tersebut akhirnya lazim digunakan sampai sekarang. Dalam pandangan pemikiran barat, istilah fundamentalis adalah sebuah faham kepanutan teguh pada pokok ajaran kepercayaan. Jadi, istilah fundamentalis merupakan sebuah predikat yang diberikan kepada mereka-mereka yang taat akan ajaran agamanya/ golongan fanatik gereja.

Dalam surat Al-Baqoroh ayat 208, kita sebagai muslim diperintahkan oleh Allah SWT untuk memasuki islam dengan menyeluruh. sehingga, menjadi seorang yang taat menjalankan islam adalah memang tuntutan bagi semua muslim. Sehingga seharusnya tidak perlu ada kata ”fundamentalis” dalam kamus ummat nabi muhammad SAW. Kata fundamentalis terlalu dipaksakan jika harus masuk dalam istilah islam. dan seandainya kita ikut-ikutan memboomingkan istilah ”fundamentalisme islam” maka istilah itu kita akan tujukan pada siapa? Ustadz dan ulama kita kah? Kalau ditujukan pada mereka, berarti anda secara tidak sadar menganggap diri anda tidak taat beragama.

Selain istilah fundamentalis, ada pula istilah seperti ”islam tradisional”. Sebenarnya siapakah mereka yang dikatakan sebagai kaum tradisional dalam islam? apakah nabi muhammad SAW dan para sahabatnya? kalau memang ada istilah seperti, berarti islam adalah agama yang tidak dapat menembus dimensi waktu, atau dalam artian tidak dapat selaras dengan perkembangan zaman.

Jika kita berbicara mengenai tradisional atau moderen berarti kita mau tidak mau juga harus berbicara tentang budaya. Karena baik tradisional maupun moderen merupakan sebuah tingkatan peradaban. Dan seseorang dikatakan tradisional atau moderen ditentukan oleh budaya lingkungan sosial. Sehingga subjektif sebenarnya jika kita harus memilah mana yang tradisional dan mana yang modern. Budaya lingkungan sosiallah yang berhak menjadi hakim.

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt lewat perantara nabi Muhammad saw. Islam diturunkan oleh Allah swt sbagai pedoman bagi semua ummat manusia untuk menjalankan hidup. Sehingga secara otomatis islam bebas dari pengaruh ruang dan waktu. jadi, apabila tingkat peradaban di tentukan oleh justifikasi budaya lingkungan sosial maka islam tidak dapat dinilai dengan cara seperti itu. Sehingga penggunaan istilah islam tradisional dan islam modern sebenarnya tidak tepat. Kalaupun harus memaksa menggunakan istilah tersebut, siapakah orang-orang yang disebut sebagai kaum islam tradisional? Islam itu hadir karena wahyu, bukan budaya.

Membunuh ummat dengan terminologi

Banyak masalah yang sebenarnya dapat terjadi jika penggunaan istilah-istilah sosial yang dikaitkan dengan islam dibiarkan. Ummat islam akan sangat mudah untuk dikotak-kotakan. Sehingga apabila sudah seperti demikian (terkotak-kotak) akan dengan mudah di adu domba. Dan hal ini bukanlah sebuah hipotesis akan analisa sosial umat islam lagi. Tapi ini sudah menjadi sebuah realita yang memilukan untuk kita saksikan dan rasakan.

Bagi musuh-musuh islam, penggunaan istilah-istilah populer dizaman ini sebenarnya merupakan sebuah taktik jitu untuk menjauhkan ummat islam dengan ajaran agamanya, dengan para ulamanya, dan bahkan dengan saudara seimannya. Istilah-istilah populer yang disandingkan dengan islam sangat tidak tepat dan terkesan sangat negatif. Sehingga phobia akan islam merebak malah dikalangan ummatnya sendiri. Media massa secara sadar atau tidak sadar terlalu sering mempergunakan terminologi-terminologi sesat saat menyampaikan informasi kepada masyarakat. Contohnya, seperti ketika berbicara mengenai berita terorisme belakangan ini. Para pelaku tindak terorisme selalu di identikan dengan para golongan islam fundamentalis. padahal kita tahu, bahwa arti dari fundamentalis sebenarnya tertuju pada mereka yang taat menjalankan ajaran agama. Sehingga dengan pemberitaan macam itu, masyarakat akan phobia dengan institusi-institusi dakwah (islamic center dan pesantren).

Selain menyerang realitas sosial masyarakat. Penggunaan istilah-istilah populer yang disandingkan dengan islam juga akan membuat kekacauan pola pikir (terutama para akademisi). Istilah islam saat ini banyak sekali direduksi oleh ideologi-ideologi barat. Padahal, ketika istilah islam tereduksi oleh ideologi-ideologi tersebut, maka yang akan dijumpai adalah pewacanaan yang tidak berimbang. Lebih kental nuansa ideologi ketimbang ajaran agama. Sehingga, ummat akan semakin jauh dengan ajaran islam yang sesungguhnya.
Selengkapnya...

POLA GERAKAN KULTURAL-STRUKTURAL ISLAM

Menurut Alamarhum KH. Abdurahman wahid, gerakan islam cultural titik tekannya adalah pada terbentuknya masyarakat islami, bukan pada formalisasi islam dalam bentuk Negara. Atau dengan kata lain, gerakan cultural merupakan sebuah pandangan yang lebih menekankan pada substansi bukan formalisasi [1]. Sehingga, wajar jika penganut faham ini menafikan adanya islam politik (gerakan structural). Saking tidak senagnya dengan islam politik, Almarhum Dr. Nurcholis madjit, yang juga merupakan salah satu tokoh yang sepakat dengan gerakan cultural sempat membuat jargon yang cukup nge-trend di tahun 80-an. Yakni, Islam Yes, Partai Islam No![2].

Berbeda dengan gerakan islam cultural, gerakan islam structural merupakan gerakan yang tidak dapat memisahkan antara islam dengan institusi Negara. Menurut Imam Hasan al-banna dalam usul isyrin asas pertama menyatakan bahwa islam adalah menyeluruh, mencakup semua bidang hidup; islam adalah Negara dan watan atau pemerintah dan ummat [3]. Dalam aplikasinya di masyarakat, gerakan structural biasanya akan berwujud sebagai lembaga-lembaga politik. Contoh Negara islam yang biasanya dijadikan contoh bagi kelompok gerakan structural adalah pemerintahan Negara madinah di jaman Rosulullah SAW. karena negara madinah yang mengusung islam sebagai konstitusi Negara terbukti dapat menciptakan masyarakat yang sejahtera.

Perbedaan dua pola pergerakan ini sebenarnya bukan sebuah musibah bagi masyarakat islam, tetapi malah seharusnya di apresiasi sebagai sebuah khasnah. Paling tidak kita menemukan sebuah titik temu pada kedua pola ini, yakni sama-sama menginginkan islam mewarnai kehidupan bermasyarakat. Gerakan cultural titik tekannya ada pada substansi islam, sedangkan islam structural pada formalisasi islam. Intinya, semua dimulai dan kembali pada islam.

Bagi Anis Matta, Lc yang merupakan seorang tokoh tarbiyah, dalam bukunya dari gerakan ke Negara[4]; secara garis besar menyatakan bahwa, malah seharusnya dua pola gerakan ini (cultural dan structural) tidak didikotomikan. Karena gerakan cultural yang menginginkan terbentuknya masyarakat islami implikasinya seharusnya adalah pada terbentuknya tatanan Negara yang islami (gerakan structural). Karena individu yang islami pasti nantinya akan dapat mentransformasikan nilai-nilai ke-islam-an yang dimilikinya dalam bentuk kinerja.

Dikotomi antara gerakan dakwah cultural dan dakwah structural ujung-ujungnya adalah kegagalan dakwah. Karena memang seharusnya dua pola ini bisa saling melengkapi. Bayangkan jika gerakan islam yang cultural tanpa melibatkan orang-orang yang berada pada structural negara?; gerakan dakwah pasti akan sangat lemah dan rentan untuk di dzolimi. Sebagai contoh seperti masa orde baru. masyarakat islami pada masa itu sangat sulit sekali untuk terwujud. karena pemerintahan dictator soeharto benar-benar mempersulit para da’i untuk berdakwah.

Sedangkan gerakan dakwah structural tanpa ada support dari basis cultural pastinya akan menghasilakn pemerintahan yang sangat lemah dan rentan konflik. Karena masyarakat tidak siap untuk merevolusi budaya yang sebelumnya tidak islami menjadi harus islami. wajar saja sebenarnya jika masyarakat saat ini ketakutan bila Negara Indonesia bercorak islam. Betapa tidak, karena memang masyarakat kita belum dikatakan islami. Sehingga kesan dari semua produk-produk hokum adalah memaksa dan memberatkan.
Selengkapnya...